Sabtu, 23 Agustus 2014

catatan pertama seorang anak yang hidup tanpa belaian kedua orang tuanya



Dear diary..
Aku tak tahu harus bagaimana menyembunyikan perasaanku yang kian berkecamuk dalam batinku. Aku merasa kenapa nasibku seperti ini. Apa kesalahanku, kenapa harus aku yang ditakdirkan hidup seperti ini. Yah, itulah sebait pertanyaan yang terbayang dikepalaku saat ini. Aku yang kini diujung tombak meraih gelar Ahli Madya Diploma Tiga Kebidanan sedang termenung memikirkan biaya wisuda yang akan kupakai nanti. Namun dalam lamunanku, ku teringat bapak. Tanpa berfikir panjang kucoba untuk menelfon bapak.
Tit….tit……….tit…… bunyi sambungan telfonku kebapak.
“Assalamualaikum”  tiba – tiba terdengar suara bapak yang mengangkat telfon.
“wa’alaikumsalam papa” ucapku penuh kebahagiaan..
“iya, kenapa” ucap bapak, tak heran setiap kali aku menelfon ucapan kedua setelah salam pasti “itu” entah kenapa timbul perasaan aneh “apa mungkin bapakku tak suka jika aku menelfonnya ? ahhh, usahlah itu hanya fikiranku saja mana ada bapak yang tak suka anaknya menelfon, yah seperti itulah aku menenangkan perasaanku sejenak.
“Bapak dimana sekarang ?” tanyaku yang berharap abpak tidak senga bersama mama tiriku, dan walhasil BENAR, “bapak ada diluar, kenapa nak”??” ucap bapak.
“pak, sekarang ika sudah dalam tahap penyelesaian, Insya Alloh Ika diwisuda bulan 10 nanti.” Kemudian bapak memotong pembicaraanku dengan kata  ”terus” ??.
Aku terdiam seribu bahasa, aku tak tahu kenapa perasaanku semkin menjadi-jadi berbagai fikiran negative kembali menari diatas memoriku, aduh apa yang harus kulakukan Ya Alloh ? aku tak tahan dengan balasan ucapan dari bapakku sendiri.
Ahh, kuberanikan diriku, aku tak mau dikalahkan oleh fikiran – fikiran negatif yang belum jelas kebernarannya.
“pak, wisuda itu butuh uang sekitar 1 juta 8 ratus tibu untuk bisa diwisuda”…
“aduh banyak sekali ba itu nak” ucap bapak dengan dialek Malaysianya.
Terus saya mau minta sama siapa lagi bapak ??
“cobalah dulu nak untuk bicara sama mamamu, siapa tahu saja bapak bisa berbagi, kalau bapak sendiri mana bisa. Kamu tahu kan Nak. Itu Kakak Watimu (sebutan mama tiriku) mau pulang untuk bawa adekmu sekolah dan itu butuh uang banyak ba itu nak.”!
Tersentak ku kaget dan tak sadar bahwa air mataku telah menetes.
Ya Alloh, aku tidak sadar bahwa Dia bukanlah milikku seorang, Dia juga punya keluarga lain yang harus ia nafkahi. Begitu berat perasaanku saat itu. Rasanya ingin kukembalikan waktu, andaikan saja aku tak mengizinkan dia menikah mungkin saja saya tak merasakan pahitnya punya keluarga yang tak utuh.
Sakitnya hati ini mendapatkan ucapan yang tak diharapkan tak menyurutkakn niatku untuk terus meraih gelar itu nantinya. Meski deraian air mataku kian banyak menets tapi aku tetap yakin bahwa Alloh menyimpan sebuah keajaiban nantinya dimana air mata ini akan digantikan oleh tawa kebahagiaan di hari yang hanya Alloh yang tahu kappa tiba waktunya.
Ku usap air mataku dengan jilbabku yang kini mulai lusuh, dan kembali kubuka leptop kesayanganku dan kuurai semua perasaanku dengan tulisan sederhana ini.
Tuhan,,
Maafkanku yang selalu berkeluh kesah
Maafkanku yang  sulit menerima takdir
Tuhan…
Beri hati ini kelapangan
Asah fikiran ini untuk menjadi pribadi yang dewasa nan bijak..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar